Jumat, 07 Oktober 2011

Serial Ayam Kampus

Ayam kampus, sungguh ayam yang sangat indah. Bulu-bulunya yang halus, suaranya yang merdu. Pokonya aku pengen menjamahnya. Apalagi pas berangkat kuliah, aku tak lupa mengunjunginya hanya untuk sekedar mengelusnya. Ckckckckcck.

Semua orang sangat menyukai ayam kampus itu, semua orang dikelas ku membicarakannya. Memang Luar biasa, aku jadi pengen memilikinya. Tapi harganya mahal gak ya? Maklumlah, kantong anak kos yang sedang kuliah pasti masih pas2 an. Aku jadi bingung. Ah, ngelus2 aja deh, pikirku.

Tapi kini, ayam kampus yang luar biasa itu telah berpulang ke Rahmatullah. Lho?????
Iya, sang ayam kampus sudah disembelih empunya nya. Lho???? Kok gitu??? Kejam dong!!! Saya tanya yang memeliharanya nya,
                   "kok disembelih bang?" 
                   "Anak saya mau sunatan dek!"

Mendengar itu aku semakin sedih, ini dia foto ayam kampus yang sudah mendiang itu :





Hahahah,, pasti kalian semua ngira ayam kampus yang itu ya.
Makanya janga Piktor dulu.. Ayam ya tetap ayam.
:D :D :D :D

Selasa, 04 Oktober 2011

Jangan tumbuh dewasa kawan!

Saat aku kecil, disaat ada pesawat terbang melintas puluhan atau ratusan meter di atas kampung kami nun jauh di mata aku akan merasa sangat gembira. Dalam hati aku bertanya, bagaimana rasanya terbang? Apakah akan seperti burung? Seperti naik angkot? Atau seperti berayun?
Tapi saat aku mulai beranjak dewasa, saat aku melanjutkan kuliah di Rantau orang yang dimana setiap waktu pesawat selalu melintas aku tidak pernah tertarik lagi. Seakan-akan aku sudah muak naik pesawat, padahal aku belum pernah naik pesawat terbang sekalipun. Aku telah berubah. Ini hal yang aku benci, saat kita tumbuh dewasa, pertanyaan yang ada di dalam benak kita akan terus berkurang, rasa ingin tahu kita semakin lama semakin menipis. Seandainya aku tetap jadi 'anak-anak selamanya' atau kita semu tetap jadi 'anak-anak'. Mungkin akan muncul banyak pertanyaan di antara kita. Tentang kenapa Sembako mahal? Tentang kenapa kita miskin? Tentang kenapa bangsa kita begitu 'bodoh'? Tentang kenapa KORUPSI merja lela?

Tapi kita tidak pernah bertanya, sesungguhnya dengan bertanya kita akan tahu jawabannya, atau paling tidak berusaha menemukan jawabannya. Kita merasa enggan bertanya seakan-akan kita sudah tahu semuanya atau kita sudah merasa 'malu' untuk bertanya, bila demikian kita adalah orang-orang yang sombong. Saat kita melihat dan merasakan fenomena disekitar kita, kita hany menerima dengan senang hati. Tanpa menelaah terlebih dahulu. Mungkin karena kita akan terasingkan jika kita bertanya, kita dianggap memberontak, kita dianggap aneh, saat kita bertanya "Apa maksudnya ini?" Saat kita heran "Kenapa kita begini?" Saat Kita mencari tahu "Apa manfaat ini?" KITA HANYA MEMBENARKAN YANG BIASA, TETAPI KITA TIDAK BERUSAHA MEMBIASAKAN YANG BENAR.

 Kita akan hancur jika kita terlalu 'dewasa', maka 'JANGANLAH KAMU TUMBUH DEWASA KAWAN!' Tetap jadi anak-anak yang apa adanya, menikmati pertemanan dan silaturrahmi, bukan seperti orang 'dewasa' yang hanya mau bergaul dengan orang-orang yang bisa memberikan benefit kepadanya. Atau seperti elit-elit politik kita yang hanya melobi untuk kepentingannya dan kelompoknya.

JANGAN BERHENTI BERTANYA BAGAIMANA, KARENA KITA KAN TAHU JAWABANNYA!